barners

Rabu, 14 Agustus 2013

Kehabisan Beras



"Assalamu'alaikum. Pak beras habis!" seorang anak menelpon bahwa untuk makan malam, tidak ada beras. Sore itu, tahun 2006, saya dan istri sedang di beranda di Sukabumi.

Pikiran saya melayang, memikiryatimkan mereka yang lapar. Kalau beras tidak tersedia, berarti uang pun sudah tidak ada. Bagaimana anak-anak makan? kami hanya mohon kepada Tuhan(Allah swt) agar ia kirimkan rezeki kepada anak-anak yatim dan du'afa di rumah kami.

Ditengah kebingungan bagaimana mencari uang untuk bisa mencari beras, malam itu, dua-tiga jam kemudian, telpon genggam saya kembali berdering. "pak, alhamdulillah, barusan ada yang mengirim narsi kebuli!" terdengar suara dari anak yang tadi menelpon.

Pukul setengah sembilan malam itu, seseorang mengirim nasi kebuli ke yayasan Ar-Rahmah.
Perut perut yang telah diisi, kedatangan nasi gurih. Langsung saja makanan enak itu anaka-anak  sikat. Alhamdulillah.

Kali lain, awal tahun 2008, tengah hari, saya sedang di kantor. Telepon saya berbunyi. "Pak beras tidak ada!"
Saya merenung sejenak, darimana bisa dapat beras untuk makan anak-anak sore ini. Saya baca Al-fatihah dan selawat.

Sekitar satu jam kemudian, ada telepon masuk.

"Halloooow. Assalamu 'alaikum! Kang, aku sudah kirim beras dua karung. Barusan tak antar ke Ciomas," Dewi, istri Purwo Hadi Suseno, teman lama di pertamina, menelpon dari sempur, Bogor. Dewi tidak tahu bahwa belum lama saya menerima kabar bahwa dirumah, sore itu, tidak ada beras yang bisa dimasak.



Masih pada tahun 2008, beberapa bulan setelah kejadian diatas,bakda zuhur, ada sms masuk, "beras habis! Tidak ada nasi untuk makan malam."

Diruang kerja saya merenung.

"Mikirin apa, kang?." Gushar, kawan akrab saya dikantor menyapa.

"Dirumah tidak ada beras buat makan."
Dia keluar ruangan. Tidak berapa lama beberapa kawan masuk ke ruangan kerja saya, mengeluarkan isi dompetnya, menyumbang saya untuk beli beras.

Kabar  kehabisan beras ini sampai ke mas Djumlati, atasan dan kawan baik yang sama-sama tinggal di area Ciomas. Sejak itu, beliau mengirim beras tiap bulan hingga sekarang.
Ada juga beberapa kawan yang megirim beras atau uang untuk membeli beras.

Sejak itu, alhamdulillah, tidak pernah lagi kami kekurangan beras karena selalu di suplay dari Pasirkuda.



Kata : Penulis Malaikat Cinta (jr)

Selasa, 13 Agustus 2013

Malaikat Cinta

Maulid Nabi

        Haji adalah cita-cita utama seorang muslim. Haji hanya diwajibkan kepada orang-orang mampu saja. Mampu secara finasial; mampu secara fisikal. Namun, tidak sedikit orang yang secara finasial tidak mampu, atas kehendak-nya melalui berbagai cara bisa berhaji.
     
        Dalam sejarah, syariat haji, lebih populer sebagai warisan Nabi Ibrahim a.s dan keluarganya. Syariat itu sampai kepada kita melalui Nabi Muhammad saw. Berbicara tentang syariat islam, semestinyalah kita membaca tentang sang pembawa ajaran ini.: Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.     
Saya hanya ingin menyampaikan tentang kelahirannya saja, Maulid Nabi saw.,secara ringkas.
        
      Hari ini, ketika saya menulis tentang kelahiran Nabi, adalah Jumat, tanggal 12 Rabiul Awal 1425H penanggalan di almanak menunjukan, ini adalah hari libur. Hampir setiap hari libur, pagi hari, sekitar pukul 05.30 atau pukul 06.00, kami (saya,istri dan anak-anak) jalan-jalan santai ke perkampungan atau ke pinggiran sungai, atau ke daerah pesawahan; kemudian membeli sarapan diwarung kecil atau jajan bubur ayam dipinggir jalan desa.
        
      Saya lihat banyak anak-anak keluar dari gang kecil, dari rumah-rumah mereka, tangannya menjinjing sesuatu. Mereka kemudian masuk ke masji-masjid , mushola-mushola, dan madrasah-madrasah. Mereka membawa apa yang orang Jawa Barat sebut sebagai bongsang. Bongsang adalah sejenis kantong yang terbuat dari kulit atau daging bambou yang deserut tipis dan di ayam., biasanya diisi makanan. Ringan ataupun berat.
     
       Kehadiran bongsang biasanya dikaitkan dengan perayaan-perayaan didesa (orang Jawa Barat bagian kota-kalau tidak semua-sebagian besar, dapat dipastikan, tidak mengenal bongsang); baik perayaan pernikahan, khitanan, atau perayaan yang lebih berbau keagamaan seperti Maulid Nanbi.
     
       Dan, hari ini adalah hari raya bagi kebanyakan orang desa seprti saya. Ini adalah hari tatkala seorang manusia besar lahir kedinia ini. Hari ini adalah hari Maulid Rasulullah saw.

         Kami terus berjalan sambil mencari dimana ada warung kecil yang menjual bubur kacang hijau (pagi itu kami ingin sarapan bubur kacang yang panas mengepul, nikmat). Dua anak kami yang mendahului berjalan jauh didepan, terhenti dan menengok ke belakang. Mungkin capek atau takut kami keholangan jejak'nya, mereka berhrnti disebuah warung baru. Tampaknya baru beberapa hari saja bukanya warung itu. "Mau sarapan disini?" tanya saya. Mereka menganggukan kepala. Akhirnya kami sarapan diwarteg yang baru buka seminggu lalu itu.

       Sementara istri menemani anai-anak menyelesaikan sarapan paginya, saya berjalan dan masuk gang kecil, tak jauh dari situ. Disebuah musala terdengar suara seorang ustadz sedang ceramah tentang keutamaan peringati maulid.
Saya terus berjalan pelan. Dan, disebuah majelis taklim dan pesantren al-qur'an, saya kembali mendengar orang-orang membaca selawat atas nabi. Mereka sedang lagi-lagi memperingati Maulid Nabi. Mereka semua sedang memperingati kelahiran seorang yang dicintainya. Peringatan Maulid adalah salah satu cara mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah saw.

Sekian dulu ......insya allah saya sambung lagi.



Kata : Penulis Malaikat Cinta (jr).