
"Assalamu'alaikum. Pak beras habis!" seorang anak menelpon bahwa untuk makan malam, tidak ada beras. Sore itu, tahun 2006, saya dan istri sedang di beranda di Sukabumi.
Pikiran saya melayang, memikiryatimkan mereka yang lapar. Kalau beras tidak tersedia, berarti uang pun sudah tidak ada. Bagaimana anak-anak makan? kami hanya mohon kepada Tuhan(Allah swt) agar ia kirimkan rezeki kepada anak-anak yatim dan du'afa di rumah kami.
Ditengah kebingungan bagaimana mencari uang untuk bisa mencari beras, malam itu, dua-tiga jam kemudian, telpon genggam saya kembali berdering. "pak, alhamdulillah, barusan ada yang mengirim narsi kebuli!" terdengar suara dari anak yang tadi menelpon.
Pukul setengah sembilan malam itu, seseorang mengirim nasi kebuli ke yayasan Ar-Rahmah.
Perut perut yang telah diisi, kedatangan nasi gurih. Langsung saja makanan enak itu anaka-anak sikat. Alhamdulillah.
Kali lain, awal tahun 2008, tengah hari, saya sedang di kantor. Telepon saya berbunyi. "Pak beras tidak ada!"
Saya merenung sejenak, darimana bisa dapat beras untuk makan anak-anak sore ini. Saya baca Al-fatihah dan selawat.
Sekitar satu jam kemudian, ada telepon masuk.
"Halloooow. Assalamu 'alaikum! Kang, aku sudah kirim beras dua karung. Barusan tak antar ke Ciomas," Dewi, istri Purwo Hadi Suseno, teman lama di pertamina, menelpon dari sempur, Bogor. Dewi tidak tahu bahwa belum lama saya menerima kabar bahwa dirumah, sore itu, tidak ada beras yang bisa dimasak.
Masih pada tahun 2008, beberapa bulan setelah kejadian diatas,bakda zuhur, ada sms masuk, "beras habis! Tidak ada nasi untuk makan malam."
Diruang kerja saya merenung.
"Mikirin apa, kang?." Gushar, kawan akrab saya dikantor menyapa.
"Dirumah tidak ada beras buat makan."
Dia keluar ruangan. Tidak berapa lama beberapa kawan masuk ke ruangan kerja saya, mengeluarkan isi dompetnya, menyumbang saya untuk beli beras.
Kabar kehabisan beras ini sampai ke mas Djumlati, atasan dan kawan baik yang sama-sama tinggal di area Ciomas. Sejak itu, beliau mengirim beras tiap bulan hingga sekarang.
Ada juga beberapa kawan yang megirim beras atau uang untuk membeli beras.
Sejak itu, alhamdulillah, tidak pernah lagi kami kekurangan beras karena selalu di suplay dari Pasirkuda.
Kata : Penulis Malaikat Cinta (jr)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar